Love Your Self

 

“Love yourself”, dua kata yang cukup populer di kalangan masyarakat milenial zaman now. Ungkapan tersebut juga menjadi judul lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi asal Kanada, Justin Bieber dan boyband asal Korea Selatan, BTS.

Tak hanya itu, “love yourself” juga sering digunakan dalam berbagai kampanye sebagai ajakan untuk masyarakat agar mulai mencintai diri sendiri. Kebanyakan orang memang memaknai kalimat ini sebatas tentang penampilan fisik saja. Padahal, makna “love yourself” sebenarnya jauh lebih dalam dari yang kita bayangkan.

Sebagai makhluk sosial, kita (individu) hidup dengan memiliki rasa simpati kepada individu lainnya. Jika kita melihat teman atau saudara yang sedang kesusahan atau berada dalam titik terendah dalam hidupnya, kita sebagai teman dan keluarganya akan berusaha untuk menolong. Bahkan, sampai mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran kita.

Akan tetapi, apakah kita pernah merasa bersimpati pada diri kita sendiri? Hal ini mungkin terlihat remeh, tapi akan sangat berpengaruh jika kita terus mengabaikannya.

Untuk dapat mencintai diri sendiri, hal pertama yang dapat kita lakukan adalah memahami diri sendiri. Kita sangat mudah menilai orang lain, baik perilaku maupun sifat mereka, tapi kita jarang mengerti apa yang sebenarnya ada dalam diri kita.

Banyak orang di luar sana yang masih belum paham apa kelebihan dan kekurangan mereka, apa sebenarnya keahlian yang mereka punya, dan apa target mereka dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini dapat terjadi karena berbagai faktor, salah satunya yang paling banyak dialami masyarakat adalah pengaruh lingkungan.

Ada beberapa orang yang masih terjebak dalam zona nyaman yang menutup diri mereka dari dunia luar. Yang lebih buruk lagi, ada beberapa orang yang tidak dapat mengekspresikan diri mereka sendiri karena adanya tuntutan dari lingkungan yang memaksa mereka untuk menjadi orang lain, bukan diri mereka sendiri.

Hal yang paling mengkhawatirkan dari orang yang terbiasa diarahkan dan tidak menjadi dirinya sendiri adalah, mereka terbiasa bergantung pada orang lain dan tidak memiliki kesempatan untuk memilih jalan hidup yang diinginkan. Bahkan, kebanyakan dari mereka sudah hilang rasa percaya diri karena jarang diberi kesempatan untuk berbicara ataupun mengekspresikan ide dan keinginan mereka.

Tak jarang juga orang-orang seperti ini berada dalam keluarga yang tidak mau mendengar dan mendukung ambisi mereka. Jangankan untuk berbicara di depan umum, berbicara di depan keluarga pun mereka ditolak.

Setelah mengenali diri sendiri, kita harus langsung menentukan prioritas dalam kehidupan sosial. Prioritas merupakan hal yang penting. Tanpa prioritas, kita tidak bisa menentukan target kita ke depan.

Biasanya setiap prioritas yang kita miliki memiliki jangka waktu yang tidak tetap dan dapat berubah sewaktu-waktu. Kalau boleh aku memberi contoh, dalam beberapa waktu ke depan prioritas yang aku miliki terbagi dalam tiga poin, yaitu:

1. Diri sendiri
2. Orangtua
3. Karier

Mungkin ada yang heran mengapa aku lebih memprioritaskan diriku sendiri daripada orangtua. Hal ini tidak lepas dari poin pertama, yaitu bagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Know yourself and love yourself.

Kebahagiaan diri sendiri itu juga perlu dan bahkan sangat dibutuhkan agar kita tidak mengalami depresi karena terlalu egois pada diri sendiri. Tubuh kita adalah satu-satunya “teman” yang akan terus menemani kita sampai tua nanti. Tubuh kita juga yang akan merasakan dampak secara langsung baik buruknya perlakuan kita terhadapnya.

Jika kita telah merasa bahagia dengan diri sendiri, maka kita dengan mudah dapat membahagiakan orangtua dan mewujudkan mimpi-mimpi kita.

“How to be happy: Stop comparing yourself to others, be happy for what you have because others might not have what you have.”

Berdamai dengan diri sendiri itu mudah, yaitu dengan tidak membandingkan apa yang kamu miliki dengan milik orang lain. Quote di atas pernah aku tulis ketika masih duduk di bangku SMP, dan kalimat tersebut akan selalu menjadi pedoman hidupku di mana pun dan kapan pun.

Selalu bersyukur atas apa yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita, dan tidak melihat atau merasa iri atas apa yang orang lain punya adalah salah satu upayaku untuk mencintai diri sendiri.

Pada awalnya memang cukup sulit. Namun, jika kita terus membiasakan diri untuk selalu bersyukur dan tidak membandingkan diri kita dengan orang lain, itu akan membuat kita semakin menghargai proses yang sudah dilalui dengan kelebihan dan kekurangan yang kita miliki sebagai individu.

Hal ini akan berpengaruh pada bagaimana kita melihat kehidupan orang lain. Kita juga akan selalu berbaik sangka kepada Tuhan karena dengan menerapkan hal tersebut kita dapat menghilangkan rasa iri kepada kehidupan orang lain.

Kalau kita sudah tidak iri, tidak suka meniru apa yang orang lain lakukan, kita akan bisa menjadi diri sendiri dan menentukan target-target kita ke depannya tanpa harus menyontek apa yang orang lain lakukan. Jika kita sudah berhasil mengontrol diri sendiri, maka kita juga dapat mengontrol apa yang ingin kita lakukan dalam hidup.

Setiap individu pasti mempunyai mimpi atau cita-cita, dan masing-masing memiliki caranya sendiri untuk mencapai mimpi itu. Ada orang yang menulis mimpi mereka menggunakan sistem “bucket list” (biasanya memiliki jangka waktu yang panjang), dan ada juga orang yang memiliki target jangka pendek yang mana akan terus berubah jika satu per satu sudah tercapai.

Aku sendiri menerapkan sistem yang kedua, yaitu sistem jangka pendek. Sistem ini aku terapkan karena lebih cocok dengan kepribadianku yang sulit untuk fokus dan mudah terganggu fokusnya jika terlalu banyak list yang dimasukkan.

Ya, sebelumnya memang aku pernah menerapkan sistem yang pertama. Hasilnya sama sekali tidak berhasil dan justru membuat target-target menjadi semakin kacau sehingga pada akhirnya tidak ada satu pun mimpi yang direalisasikan. Hal ini berkaitan lagi dengan poin pertama, di mana kita harus bisa mengenal diri sendiri supaya bisa tahu sistem yang cocok untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau ditanya target dalam waktu dekat ini, aku hanya ingin bisa meluncurkan sebuah buku. Kok cuma satu? Iya harus one by one, step by step, biar semua cita-citaku bisa aku raih. Memang akan sedikit lambat, tapi dengan sistem ini aku yakin cita-citaku bisa tercapai karena aku bisa lebih fokus dan merasa lebih enjoy.

Kalian juga bisa menerapkan sistem yang sama seperti yang aku lakukan asalkan memang sesuai dengan keinginan diri sendiri dan tidak ikut-ikutan orang lain. Tidak ada yang dapat mewujudkan mimpi atau cita-cita kita, jika kita tidak memulai untuk bergerak dan mewujudkan mimpi tersebut.

Kalau kata Nina J. Moran, Founder dan Owner Gogirl! Magazine, dalam salah satu podcast beliau pernah mengatakan, “Decide now, decide for yourself what you want to create, and design for yourself.”

Wujudkan apa yang ingin kalian raih, cita-cita apa yang belum tercapai, semua harus dilakukan saat ini juga karena dunia akan terus berputar dan tidak akan menunggu kita. Memang pada awalnya terlihat sulit, tapi kita tidak akan pernah tahu jawabannya jika tidak mencoba. Semuanya bergantung pada pilihan kita, apakah kita ingin membangun “empire” itu nanti atau sekarang juga.

Sumber referensi: Blog-Dana Cita

For your information,kalian bisa menjadikan idola kalian untuk panutan. Panutan dalam hal kebaikan pastinya ya. Aku punya kata-kata yang mungkin bisa memotivasi kalian nih. Kata-kata ini adalah bagian dari pidato RM di sidang PBB ke-73 tahun 2018 lalu. 

Tidak peduli siapa dirimu, darimana kamu berasal, apa warna kulitmu, apa jenis kelaminmu, cukup berbicara pada dirimu sendiri. Temukan namamu, temukan suaramu dan berbicaralah pada dirimu sendiri.-RM BTS 


Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca blog saya. Have a great day 🤗



Komentar